Tempat berkumpul para Filmmaker. Berbagi Ilmu, Cerita dan Berita

Gelar Konferensi Pers Secara Virtual, Film Penyalin Cahaya Mengungkap Fakta Baru

Secara virtual, film Penyalin Cahaya melakukan konferensi pers melalui akun Youtube Kompas TV. Menurut Wregas Bhanuteja, film merupakan media komunikasi yang dapat melakukan argumentasi kepada masyarakat tentang kondisi bangsa kita sekarang.

Film Penyalin Cahaya dibuat oleh Wregas untuk mengargumenkan kekerasan dan pelecehan seksual kepada masyarakat karena lingkungan yang tidak mendukung atau bahkan menyepelekan penyintas. Masyarakat masih memandang pelecehan atau kekerasan seksual terjadi karena apa yang korban kenakan atau konsumsi sebelumnya. Hal ini membuat penyintas bungkam karena adanya ketidakadilan.

Wregas mengikutkan Penyalin Cahaya dalam festival film agar film yang dibuatnya tidak hanya ditonton oleh orang Indonesia, namun juga orang luar untuk menyuarakan dan melawan kekerasan serta pelecehan seksual. Maksud dari judul Penyalin Cahaya adalah cahaya harapan yang digandakan untuk melawan ketidakadilan. Film ini memiliki durasi 129 menit.

Soundtrack film ini berjudul “Di Bawah Langit Raksasa”. Menurut Mian Tiara, aktor dan pembuat lagu “Di Bawah Langit Raksasa”, lagu ini akan membungkus dan mengikat film Penyalin Cahaya dalam spirit dan kekuatan sehingga tercipta ikatan yang kuat antara soundtrack dan film.

“Lagu akan didengarkan semua orang dan harapannya mereka menjadi tergerak untuk melawan isu darurat tentang kekerasan dan pelecehan seksual,” ucap Wregas dalam konferensi pers fim Penyalin Cahaya (2/9).

Beberapa pemeran film Penyalin Cahaya, yakni Shenina Cinnamon, Lutesha, Dea Panendra, dan Jerome Kurnia, hadir dalam konferensi pers secara live bersama-sama, sementara Chicco Kurniawan hadir secara daring. Para pemain menjelaskan tiap karakter seperti Sur yang gigih, Farah yang jutek dan pendiam, Anggun yang berwibawa, Tariq memiliki emosi yang kuat, dan Amin yang kurang sadar dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Semua pemain mengatakan bahwa Wregas menjadi sutradara yang terbuka dan memberikan kebebasan kepada pemain untuk mengeksplor karakter masing-masing. Banyak pemain yang baru diungkap pada konferensi pers ini seperti Lukman Sardi sebagai ayah Sur, Ruth Marini sebagai ibu Sur, Landung Simatupang sebagai supir taksi online, dan Rukman Rusadi sebagai Dekan MIPA.

Kru film Penyalin Cahaya sudah lama melakukan riset tentang isu kekerasan dan pelecehan seksual ini, melalui berita, kisah teman-teman, kabar mulut ke mulut, dan yayasan antikekerasan seksual.

“Setiap pekerjaan memiliki resiko besar ketika kekerasan seksual itu terjadi,” kata Chicco Kurniawan. Kekerasan dan pelecehan seksual memang bisa terjadi di mana saja. Oleh karena itu, kita harus memberikan dukungan kepada penyintas untuk menyuarakan serta melawan kekerasan dan pelecehan seksual.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts
Read More

Adhisty Zara diganti dalam Sekuel dari film Dua Garis Biru?

Namun lanjutan film kali ini ternyata tidak memainkan role Adhisty Zara seperti film sebelumnya. Dimana Dara akan diperankan oleh orang lain. Rasanya perlu alasan yang lebih jelas mengapa peran Adhisty Zara diganti, karna tokoh Dara sekali sangat iconic dengan pemeran Zara. Mari lihat artikel sepenuhnya...