Review Film Janin

Misteri yang diangkat dalam film Janin sudah bisa langsung tertebak dari trailer resmi yang dihadirkan. Balas dendam dari sang mantan yang tidak dianggap dan dipaksa untuk menggugurkan janinnya. Bagi kamu yang sudah biasa menonton film horor lokal pasti juga sudah bisa menebak bahwa karakter dalam film ini yaitu bu Sukma yang terlihat creepy bukanlah sosok antagonis yang sebenarnya.  Nah, di sini penulis skenario cukup pintar dengan menambahkan karakter lain yang tidak biasa. Yaitu karakter suster bernama Susan yang ternyata adalah hantu berwujud manusia. Awalnya saya mengira suster ini adalah sahabat dari Susan yang asli, yang tidak terima dengan perbuatan Randu. Siapa sangka bahwa ia adalah setan.

Hadirnya karakter suster membuat film ini memiliki double twist yang rapi dan tidak asal-asalan. Menyenangkan karena yang demikian jarang hadir di film-film horor lokal. Sayangnya, pasca twist yang pertama, memasuki babak akhir cerita, terlihat jelas bahwa film digarap dengan terburu-buru. Kualitasnya sangat menurun jika dibandingkan dua babak sebelumnya. Hantu Susan yang punya banyak waktu untuk mengambil janin dari perut Dinar tidak kunjung melakukannya. Sibuk berteriak meminta Dinar untuk menyerahkan janinnya.

Adegan di bagian akhir yang paling aneh adalah saat hantu Susan terbang membawa Dinar dari ruang bayi di lantai 2. Awalnya memang keren, tapi di adegan berikutnya mereka berdua ternyata hanya melayang-layang dengan ketinggian 1/2 meter dari tanah.

Dari segi horor, film ini menghadirkan lebih dari dua efek visual yang cukup menarik yang terlihat seram. Namun, yang menjadi masalah adalah efek suara dan musik latar yang digunakan. Volumenya yang bikin telinga sakit karena saat adegan menjelang jump scare pasti volume bertambah keras. Dan memuncak saat ada sesuatu yang mengagetkan. Ini yang kemudian membuat bosan saat menonton dan nyaris tertidur. Akting kedua pemeran utama cukup baik. Terasa meyakinkan. Penonton bisa merasakan kesalnya Dinar saat Randu tidak mempercayai ceritanya. Atau sebaliknya, bisa merasakan lelahnya pikiran Randu saat Dinar terus-terusan ketakutan.

Meski masih mengidap masalah yang sama dengan kebanyakan film horor lokal dimana kualitas cerita di babak akhir jauh menurun, namun setidaknya apa yang coba disampaikan dalam film janin masih bisa dinikmati. Sayangnya, penggunaan efek suara yang terlalu berlebihan sangat mengganggu.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts