Memiliki Nama Internasional, 7 Film Indonesia Ini Sukses di Kancah Internasional

Kesuksesan film Indonesia di kancah internasional membuktikan bahwa film Indonesia mampu bersaing dengan film luar negeri lainnya. Peningkatan ini membuat film Indonesia semakin dilirik keberadaannya oleh senias maupun pengamat film dari luar negeri.

Kejayaan ini tidak terlepas dari garapan film sutradara dan jalan cerita yang luar biasa, sehingga banyak film Indonesia yang mulai diputar di luar negeri hingga mendapatkan penghargaan film internasional.

Film-film tersebut akhirnya memiliki judul internasional sendiri agar mudah diingat oleh penggemarnya yang ada di luar Tanah Air. Berikut adalah rangkuman film-film Indonesia yang memiliki judul internasional :

1. Berbagi Suami (2006) – Love for Share

Film Berbagi Suami  bercerita tentang tiga wanita yang memiliki kebudaan berbeda, namun memiliki nasib yang sama yaitu dipoligami oleh suaminya. Film ini terbagi dalam tida segmen cerita, yaitu cerita Salma, Siti, dan Ming yang memiliki usia, sosial, dan etnis yang berbeda yang menjalani kehidupan dipoligami.

Salma (Jajang C Noer) mewakili kalangan berpendidikan dengan strata sosial yang tinggi, berprofesi sebagai dokter, berlatar kultur Betawi  di usia 50-an, memiliki suami pengusaha yang terjun ke dunia politik namun ternyata memiliki tiga istri lainnya selain Salma.

Siti ( Shanty) adalah perempuan dari pelosok Jawa yang dipersunting oleh supir studio film, awalnya ia mengira suaminya ini adalah orang penting di perfilman karena memiliki foto dengan aktor terkenal, Siti harus menerima nasib bahwa suaminya telah memiliki dua istri sebelum dia. Ming (Dominique) adalah gadis Tionghoa berusia 19 tahun yang dinikahi oleh pemilik restoran bebek di tempat ia bekerja, namun pemilik restoran sudah memiliki istri yang menjadi pengurus keuangan restoran.

Sebelumnya, film ini sudah melalui proses pengamatan dan riset dari sudut pandang perempuan tentang poligami. Film karya Nia Dinata ini mempu membawa film Indonesia ke kancah Internasional pada tahun 2007 dengan nama internasional Love for Share.

Film ini sudah diakui dibeberapa Negara, dengan mendapatkan penghargaan Golden Maile Award sebagai Best Feature Film dalam Hawaii International Film Festival, Amerika Serikat dan juga “Movie of the Year” dari Guardians e-Awards pada tahun 2007.

2. Rumah Dara (2009) – Macabre

Film Rumah Dara adalah film horror yang bertema ‘gore’, film ini memiliki banyak adegan sadis namun mendapatkan respon baik.

Film ini bercerita tentang Adjie (Ario Bayu) dan Astrid (Sigi Wimala), pasangan suami istri, lalu ada Alam (Mike Lucock), Eko (Dendy Subangil), dan Jimmy (Daniel Mananta) sebagai teman mereka, serta saudara perempuan Adjie bernama Ladya (Julie Estelle) pergi bersama-sama. Dalam perjalanan, mereka bertemu Maya (Imelda Therinne) yang mengaku dirinya di rampok.

Akhirnya mereka mengantar Maya kerumahnya dan bertemu keluarga Maya. Di rumah itu ada Dara (Shareefa Daanish), sebagai ibu Maya, saudara Maya yaitu Adam (Arifin Putra) dan Arman (Ruli Lubis). Ternyata keluarga Maya adalah keluarga kanibal yang suka mencari korban manusia untuk dimakan dagingnya.

Timo Brothers yang menyutradarai film ini memberikan judul Macabre sebagai judul internasional film Rumah DaraMacabre punya arti mengerikan. Persis menggambarkan seisi film ini.

3. Pengabdi Setan (2017)  Satan’s Slave

Film Pengabdi Setan adalah remake film horror tahun 1980-an. Karya film Joko Anwar ini mengalami kesukses besar khususnya penayangan di luar negeri.

Film yang punya jalan cerita mencekam ini pun memiliki judul internasional yaitu Satan’s Slaves, yang dalam bahasa Indonesia memang Pengabdi Setan.

4. Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) – Blind Pig Who Wants to Fly

Film Indonesia yang dirilis pada tahun ini 2008 ini adalah hasil karya Edwin yang memiliki cerita yang unik. Bercerita tentang rasa dilema Linda (Ladya Cheryl), seorang perempuan keturunan Tionghoa dengan prestasi yang banyak namun tetap dipicingkan hanya karena ras.

Film Babi Buta yang Ingin Terbang adalah seluruh penggalan cerita yang memberikan gambaran kaleidoskop, film ini mengisahkah pengalaman-pengalaman penuh cobaan tentang kehidupan komunitas minoritas yang hingga kini, belum juga terpenuhi harapannya.

Karena film ini memiliki perhatian dari dunia internasional, sehingga memiliki judul internasional, yaitu Blind Pig Who Wants to Fly.

5. Senyap (2014) – The Look of Silence

Senyap atau dikenal dengan The Look of Silence dalam judul internasional, adalah film documenter karya sutradara kebangsaan Amerika Seikat, Joshua Oppenheimer yang mengangkat cerita pembantaian 1965, yaitu kasus G30S/PKI.

Senyap menyoroti kisah Adi, seorang penyintas dan keluarga korban yang menghadapi kenyataan ketika dirinya dan keluarganya dituduh sebagai bagian dari PKI. Walaupun tema sentralnya sama, film ini berbeda dengan film Jagal, karya Joshua sebelumnya, yang menyoroti sisi pelaku pembantaian.

Senyap memfilmkan perjalanan satu keluarga penyintas untuk mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana anak mereka dibunuh dan siapa yang membunuhnya. Adik bungsu korban bertekad untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban, dan kemudian mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya—sesuatu yang tak terbayangkan ketika para pembunuh masih berkuasa.

Film Senyap pertama kali diputar di Indonesia pada 10 Desember 2014 secara serentak di berbagai kota, sebagai bagian dari peringatan Hari HAM Sedunia. Film Senyap masuk dalam nominasi Oscar untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik.

6. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)  Marlina, the Murderer in Four Acts

Film karya sutradara Mouly Surya mengejutkan publik karena filmnya yang berjudul Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak sukses besar di dunia perfilman internasional dan mendapatkan banyak perhargaan dari dalam maupun luar negeri.

Film ini menceritakan tentang Marlina (Marsha Timothy) yang melakukan tindakan perlawanan kepada seorang lelaki yang hendak memerkosanya di depan mayat suaminya sendiri. Marlina memenggal kepala si lelaki itu dan dia bawa ke kantor polisi untuk jadi barang bukti.

Film ini punya judul internasional, yakni Marlina, the Murderer in Four Acts. Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak mendapat sepuluh penghargaan dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2018. Selain itu, mewakili Indonesia untuk mengikuti seleksi nominasi dalam ajang perfilman paling bergengsi di dunia, Academy Award 2019 pada kategori Best Foreign Language Film.

7. Kucumbu Tubuh Indahku (2019) Memories of My Body

Film Kucumbu Tubuh Indahku atau Memories of My Body sebagai judul internasional merupakan salah satu film Garin Nugroho yang begitu mendapat pujian dari publik Indonesia dan luar negeri.

Film ini punya jalan cerita yang cukup berani dan mengangkat isu yang terdengar tabu dikalangan masyarakat Tanah Air. Mengangkat kisah tentang penari Lengger laki-laki dengan segala trauma masa kecilnya, film ini sempat dicekal publik Tanah Air.

Film Kucumbu Tubuh Indahku justru makin melesat di ajang penghargaan, bahkan masuk seleksi calon nominasi Oscar.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts